Categories
Report

Mewaspadai “New Normal” sebagai 3rd wave

Pada tanggal 6 Juni 2020, tepat 2 minggu setelah event sebelum dan sesudah “lebaran” (baca: masyarakat mulai meramaikan tempat belanja, pasar dan lainnya) terjadi lonjakan kembali kasus positif COVID-19 di Indonesia dengan mencapai angka 993 dan diikuti tanggal 7 Juni 2020 sebanyak 672. Sayangnya kenaikan kasus dan konstannya pertambahan diatas 500 kasus ditanggapi dingin baik oleh Pemerintah, Pemda dan bahkan masyarakat. Lonjakan kasus harian saat ini lebih tertutup dengan bergulirnya istilah “new normal” yang kemudian disikapi semua pihak sebagai relaksasi dengan versi nya masing-masing. Meskipun ada daerah yang tetap menggunakan istilah PSBB transisi, dan daerah lain yang masih berjuang dengan pertambahan kasus yang makin tinggi.

Dari data yang dihimpun Tim Respon COVID-19 Indonesia, pola dan perubahan pola pertambahan kasus mengkonfirmasi masih tingginya pertambahan kasus di wave kedua di Indonesia. Dengan trend data yang ada, sangat potensial kemunculan Wave/gelombang ketiga yang terjadi 2 minggu dari penerapan “new normal” ala masing-masing dibanyak lokasi di Indonesia. Gelombang ketiga ini akan mencatatkan pertambahan kasus di atas 1000 per hari dengan kisaran pertambahan 600-an kasus. Hal ini terjadi kemunculan kasus yang makin random dengan persebaran dari interaksi manusia yang makin banyak, jumlah tes masal yang dilakukan dan makin longgarnya protokol kesehatan di banyak tempat.

Kelemahan mendasar saat ini adalah Masyarakat sudah sangat acuh dengan kasus pertambahan, adanya zona merah dan kebutuhan ekomoni yang makin tinggi. Daerah seakan berlomba men-declare dirinya “new normal” agar terlihat aktif merespon kebijakan pusat tanpa melihat data dan fakta dilapangan, apalagi kesiapan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan sebagai syarat utama. Para ahli epidemology masih menyampaikan potensi pertambahan dan persebaran masif di waktu mendatang.

Menurut kami ada beberapa poin krusial yang mau tidak mau harus berani diterobos (baca: dikoreksi) :

  1. New Normal memiliki kelemahan persepsi publik yang tidak diharapkan, sehingga berpotensi menjadi trigger pertambahan kasus dimasa depan dengan leluasanya interaksi sosial, manusia, ekonomi dan lainnya.
  2. Protokol kesehatan yang didukung dengan pengawasan dengan penerapan monitoring ketat akan menjadi kunci. Minimal ini jadi entry point pendataan siapa saja yang terlibat dalam suatu kerumunan yang terbentuk, dan kita akan punya data potensi kasus kedepan.
  3. Penerapan New Normal benar-benar harus dievaluasi, karena hanya dimengerti di masyarakat level tertentu, dan di level lain masyarakat menterjemahkan masing-masing berbasis kebutuhan.
  4. Mulai muncul pola, masyarakat membentuk “sistem sendiri” yang kontra produktif dan membahayakan, misalnya mengurus pemakaman pasien positif dengan cara nya sendiri, dan lainnya
  5. Masih banyak daerah kewalahan untuk menahan laju pertambahan yang tinggi
  6. Semakin tidak berbicaranya data, grafik dan analisis yang dihasilkan menyebabkan mitigasi kasus COVID-19 mulai menjadi tidak menarik dan di-acuhkan saat ini diatas penerapan “new normal”
  7. Masih ada kesempatan untuk menahan laju dan survive, dengan benar-benar mendorong semua pihak mengetahui situasi saat ini dan kedepan berbasis data.

Tentang Respon COVID-19 Indonesia

Respon COVID-19 Indonesia adalah insiaisi data movement untuk mitigasi penyebaran COVID-19 di Indonesia. Terpublikasi melalui website dan dashboard data cases di Indonesia pada covid19.gamabox.id sejak tanggal 13 Maret 2020. Merupakan inisiasi kerjasama Lab Riset Sistem Komputer dan Jaringan, DIKE FMIPA UGM dan Start Up Widya Analytic. Memfokuskan pada pengumpulan data lapangan dan analisisnya secara faktual dalam perspektif 360 derajat sudut pandang data, didukung dengan tim riset ilmiah, tim kampanye mitigasi dan tim teknis pengembangan peralatan tepat guna untuk meredam penyebaran.

@2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *