Categories
Report

“New Normal” vs “New Pattern” Pertambahan COVID-19

Saat ini seperti memasuki babak baru kasus yang terjadi pada pertambahan dan persebaran COVID-19 di Indonesia. Pemerintah Indonesia sudah melancarkan jargon “new normal” sebagai solusi untuk membuka/relaksasi pengetatan pembatasan sosial yang sudah berjalan, mengerakan roda ekonomi dan sektor lain, dan mengulirkan kehidupan normal dengan cara baru. Strategi ini dilakukan ditengah-tengah pertambahan dan persebaran kasus di Indonesia memasuki pola baru, bukan lagi pola pertambahan karena tercapainya jumlah test harian, tetapi dipicu dengan moment/event dan strategi yang mendorong terjadinya mobilisasi. Denyut perubahan ini sebenarnya sudah terasa ketika terjadi “relaksasi” pembatasan sosial dengan membuka channel transportasi, kemudian beberapa derah keluar dari mode PSBB. Tetapi tampaknya pertambahan dan persebaran berdasarkan data yang ada pun tidak mengoyahkan pilihan strategi ini.

Bagaimana dengan strategi “new normal” saat ini?

Strategi dan pola yang sama dipakai Pemerintah untuk melakukan dan mengulirkan jargon ini. Dan beberapa daerah menangkap ini sebagai peluang untuk lebih membuka “kran” mobilisasi dan aktivitas masyarakat secara normal. Momen Lebaran kemarin, sebenarnya sudah menunjukan hal serupa, ketika pembatasan sosial dilonggarkan untuk keperluan interaksi sosial, dan saat ini kita bisa melihat di beberapa bagian wilayah sudah berjalan seperti biasa baik dari aktivitas dan kesibukan yang terjadi.

Menilik artikel pada https://www.nytimes.com/2020/05/28/world/asia/indonesia-coronavirus-surge.html, terdapat review bagaimana pola di Indonesia yang sangat perlu diwaspadai dan dianggap terlambat.

Mari kita lihat Datanya, saat ini.

Keita bisa melihat ada pola pertambahan kasus signifikan pada beberapa titik waktu yaitu masa puncak fase pertama di awal Mei, kenaikan signifikan di angak mendekati 1000 kasus pada pertengahan menjelang akhir Mei, dan saat ini melihat pola baru, pertambahan yang mulai muncul di range 600-an kasus per hari. Baik secara kumulatif dan pertambahan harian belum ada yang menunjukkan kasus yang menurun. Terkonfirmasi pada semua kasus di provinsi menunjukkan hal yang serupa. Bahkan salah satu Provinsi yaitu Jawa Timur menjadi epicentrum baru, dan Jawa Timur ssecara demografi menjadi hub ke arah Indonesia Timur.

Kami ingin mengatakan bahwa pertambahan dan persebaran kasus memiliki pola baru seiring jargon “new normal” yang akan dilaksanakan. Seperti kita mengikuti lari sprint, garis finish-nya pun ikut berlari dari pelarinya. Pada titik tertentu, prediksi di Oktober-November kita tidak dapat mengejar lagi pertumbuhan dan persebaran kasus yang terjadi jika strategi “new normal” hanya mengeser kebiasaan jaga jarak, pakai masker dan lainya yang sudah dikerjakan ketika PSSB ditambah dengan aktivitas ekonomi lainnya, tanpa mitigasi dan batasan yang ketat. Seketat apapun kekuatan untuk mempressure masyarakat tidak seperti lockdown oleh militer misalnya.

Melihat hal ini, strategi “new normal” ini berbahaya jika dilakukan dengan apa adanya, tapi harus dengan mengkombinasikan strategi berbasis data, dan mendasarkan respon serta pressure berbasis pertambahan kasus harian. Kita masih menunggu pola pertambahan kasus baru akibat beberapa moment terakhir yang terjadi karena mobilisasi masif masyarakat. Kunci terakhir adalah ketika Pemerintah mengambil strategi yang kurang optimal, maka Masyarakat yang harus mengambil strategi “new normal’ nya sendiri.

Tentang Respon COVID-19 Indonesia

Respon COVID-19 Indonesia adalah insiaisi data movement untuk mitigasi penyebaran COVID-19 di Indonesia. Terpublikasi melalui website dan dashboard data cases di Indonesia pada covid19.gamabox.id sejak tanggal 13 Maret 2020. Merupakan inisiasi kerjasama Lab Riset Sistem Komputer dan Jaringan, DIKE FMIPA UGM dan Start Up Widya Analytic. Memfokuskan pada pengumpulan data lapangan dan analisisnya secara faktual dalam perspektif 360 derajat sudut pandang data, didukung dengan tim riset ilmiah, tim kampanye mitigasi dan tim teknis pengembangan peralatan tepat guna untuk meredam penyebaran.

@2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *