Categories
Report

Indikator Resiko COVID-19 per Provinsi dan Strategi 80/90%

Persebaran COVID-19 di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan pola persebaran di negara lain. Karakteristik daerah, masyarakat, pola interaksi sosial, kesadaran masyarakat dan event yang saat ini terjadi di Indonesia menimbulkan keunikan dan tantangan tersendiri. Karakteristik ini meskipun tidak teknikal tetapi menjadi faktor bebas yang berpotensi menjadikan persebaran dan pertumbuhan COVID-19 di berbagai daerah menjadi eksponensial dan tidak beraturan. 

Penyusunan indikator risiko per provinsi ditujukan untuk menampilkan besarnya risiko dari masing-masing provinsi di Indonesia. Nilai atau indikator risiko akan menampilkan besar potensi dari suatu provinsi jika di trigger dengan munculnya faktor pendorong, misalnya tidak efektifnya PSBB, interaksi masyarakat yang melanggar konsep physical distancing, kesadaran masyarakat yang belum penuh terhadap bahaya dan potensi COVID-19 di masa depan, dan didorong event yang sedang berlangsung (misalnya fenomena menjamurnya pedagang takjil sebelum waktu berbuka, pasar tradisional yang masih beroperasi normal, dan sejenisnya).

Indikator risiko dihitung dari jumlah kasus positif yang menunjukkan besarnya potensi dari orang yang terperiksa untuk menjadi positif, tingkat kesembuhan pasien, dan resiko meninggal yang mungkin terjadi. Tentunya indikator resiko tidak melibatkan parameter-parameter seperti luasan wilayah, kelengkapan fasilitas kesehatan, tenaga medis dan lainnya.

Dari 34 Provinsi di Indonesia, Provinsi DKI jakarta menjadi provinsi dengan tingkat resiko tertinggi baik untuk kasus positif, tingkat kesembuhan, dan resiko meninggal. hal ini wajar karena epicentrum awal persebaran ada di DKI Jakarta. Sehingga sebenarnya, masyarakat yang ada di DKI Jakarta diharapkan untuk tetap tinggal di rumahnya masing-masing dan tidak bepergian ke daerah lain, yang nantinya hanya akan menggeser potensi resiko tinggi ke daerah lain. kebijakan Pemprov DKI sangat tepat dengan menargetkan penduduk tetap akan berada di rumah hingga 80%, dan jika memungkinkan di dorong mendekati angka 90%. hal ini menjadi sangat efektif untuk menahan penambahan kasus dan resiko yang muncul dari kasus yang terjadi.

Bagi provinsi lain hal ini juga penting. Tidak kemudian bisa bernafas lega karena resiko tidak sebesar di DKI Jakarta. Potensi perpindahan baik secara lokal di dalam daerahnya sendiri maupun dari daerah lain masih mengancam. sehingga strategi menahan sebanyak mungkin masyarakat untuk tetap di rumahnya di angka 80%-90% akan cukup signifikan menahan laju pertumbuhan kasus dan juga resiko yang terbawa.

Orientasi PSBB yang meminimalkan kegiatan sosial, bisa diorientasikan kembali untuk memaksa/menahan dan memastikan masyarakat beraktifitas 80-90% dirumah. Yang jika ini dilaksanakan secara individual rumah, maka kumulatif secara Kota/Kabupaten dan Provinsi akan signifikan. Mengubah kampanye physical distancing dengan memfokuskan pada menahan orang dirumah akan sangat diperlukan.

Tentang Respon COVID-19 Indonesia

Respon COVID-19 Indonesia adalah insiaisi data movement untuk mitigasi penyebaran COVID-19 di Indonesia. Terpublikasi melalui website dan dashboard data cases di Indonesia pada covid19.gamabox.id sejak tanggal 13 Maret 2020. Merupakan inisiasi kerjasama Lab Riset Sistem Komputer dan Jaringan, DIKE FMIPA UGM dan Start Up Widya Analytic. Memfokuskan pada pengumpulan data lapangan dan analisisnya secara faktual dalam perspektif 360 derajat sudut pandang data, didukung dengan tim riset ilmiah, tim kampanye mitigasi dan tim teknis pengembangan peralatan tepat guna untuk meredam penyebaran.

@2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *